Minggu, 25 Februari 2024

Busana Menteri Siti Nurbaya Nyentrik, Bermula dari Insiden Oplet

Ali Muntoha
Sabtu, 30 September 2023 06:30:00
Menteri LHK Siti Nurbaya Bakar dengan busana khasnya. (X/@SitiNurbayaLHK)

Murianews, Jakarta – Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar selalu tampil dengan busana yang cukup nyentrik. Sangat jarang Menteri Siti Nurbaya mengenakan rok atau busana yang lebih feminim.

Saat bekerja termasuk dalam acara-acara kenegaraan, Menteri Siti Nurbaya selalu mengenakan kemeja beserta setelan jas dengan celana panjang dipadu dengan dasi serta sepatu pantofel. Sesekali saat turun ke lapangan, ia juga mengenakan jaket dan topi.

Ternyata ada sebab Menteri Siti Nurbaya memilih mengenakan busana yang terkesan maskulin ini. Hal ini bermula dari insiden di angkutan umum zaman dulu yang dikenal dengan nama oplet atau mikrolet.

Menteri Siti Nurbaya membeberkan insiden itu dalam podcast yang disiarkan akun Youtube Sekretariat Kabinet.

Wanita yang memulai karir dari pegawai negeri sipil (PNS) tersebut mengisahkan, ia pernah memiliki pengalaman kurang mengenakkan karena roknya tersangkut di mikrolet karena tergesa-gesa hendak turun.

Pengalaman tersebut dialaminya di tahun 1983, saat mau mengikuti pendidikan dan pelatihan di Kampus Universitas Indonesia di Salemba, Jakarta.

”Tahun 1983 itu oplet itu kan penertibannya juga berat, kalau turun cepat-cepat turun gitu, enggak boleh (lama-lama), kan ada Polantas dan lain-lain. Saya cepat-cepat turun, rok saya kesangkut di kaki, di sepatu, jatuh saya dari oplet,” kata Siti dikutip Murianews.com, Sabtu (30/9/2023).

Tak hanya itu, saat Siti Nurbaya menjabat sebagai Kepala Seksi Pengairan di Badan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Lampung dan kerap ditugaskan ke lapangan, Siti mengaku kurang leluasa bergerak ketika harus mengenakan rok.

”Saya kalau pergi ke lapangan kan manjat-manjat, apalagi kalau ada banjir dan lain-lain kita kadang-kadang mesti pakai tali kan naik. Jadi saya selalu pakai rok terus di dalamnya bikin short celana pendek yang sama seperti roknya jadi saya selalu pakai dua gitu,” tuturnya.

Pengalaman-pengalaman tersebut lah yang membersitkan keinginan peraih Penghargaan 99 Most Powerfull Women Majalah Globe Asia ini untuk mengenakan celana panjang saat bekerja.

Hasrat tersebut semakin bertambah sewaktu dirinya melanjutkan studi di Belanda. Menurut Siti, para wanita pekerja kantoran di Negara Kincir Angin tersebut terlihat sangat modis dan praktis saat mengenakan blazer dipadukan dengan celana panjang.

Gaya busana wanita pekerja di Belanda ini pun dipakai Siti saat kembali ke Tanah Air dalam bekerja.

”Waktu saya sekolah di Belanda itu saya lihat perempuan-perempuan yang bekerja di kantor itu pakainya begitu dan saya pikir ‘oh, ini kayaknya oke juga’. Maka ketika saya kembali ke Indonesia, saya mulai in deh pakai celana panjang,” ujar Siti.

Alasan kepraktisan pun yang akhirnya membuat wanita yang pernah menyandang gelar PNS Teladan Nasional ini terinspirasi untuk mengeluarkan aturan yang memperbolehkan pegawai wanita untuk mengenakan celana panjang. Hal tersebut dilakukan Siti saat menjadi Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) dan Sekjen Dewan Perwakilan Daerah (DPD).

”Ketika saya jadi Sekjen Dagri tahun 2000 akhir, 2001 saya mengeluarkan aturan bahwa perempuan boleh pakai celana panjang se-Indonesia,” ucapnya.

Sementara untuk pilihan mengenakan sepatu pria, kata Siti, juga karena alasan kepraktisan.

”Sepatu laki-laki itu kan ngiketnya ke ini ya, sampai ke atas ya, kalau sepatu perempuan kan hanya ujung depannya doang. Saya itu tukang lari-lari, saya itu masa kecilnya bandel ya, manjat, lari, jadi kalau pakai sepatu perempuan gampang copot. Jadi saya dari kecil, dari sekolah udah pakai sepatu laki-laki,” ucapnya.

Terkait pilihan busananya tersebut, kata Siti, tentu saja bukan tanpa tantangan. Ia mengungkapkan, pimpinan di tempatnya bekerja saat di Pemerintah Provinsi Lampung, Kemendagri, hingga DPD sempat mempertanyakan pilihan yang diambilnya.

”Memang sempat ditanya Pak Gubernur (Lampung), ‘Kok kamu pakaiannya begitu?’ Saya bilang, ‘Pak, yang penting kerjanya sih, Pak bukan bajunya,’ gitu,” tandas Siti Nurbaya.

Komentar